Telah diajarkan dalam filsafat materialisme dialectika, bahwa hubungan antara Borjuis/pengusaha/pemodal/kelas borjuasi dengan proletar/pekerja adalah kontradiksi antagonis, artinya pertentangan antar kelas tersebut TIDAK akan pernah terdamaikan, hingga salah satu diantara kelas tersebut memenangkan pertarungan ideologis dan memimpin berjalannya sistem bermasyarakat di dunia. ideologi yang diusung masing-masing adalah Kapitalisme yang merupakan representatif dari kepentingan Kelas Borjuasi, dimana modal sebagai basis material yang utama dikuasai oleh segelintir kaum borjuasi untuk menguasai hak dan kehidupan masyarakat banyak atau kelas yang menggerakkan perputaran modal tersebut yaitu kelas pekerja, namun kesejahteraan bagi kelas pekerja adalah ilusi yang diberikan oleh kelas borjuasi dalam menerapkan sistem ekonomi-politik yang kapitalistik, dengan bentuk demokrasi "semu" yang di usung oleh alat penindas terstruktur bernama Negara dengan segala jajaran birokrasi dan aparatur penjaga sistem kapitalistiknya. hal ini telah diurai lengkap oleh Karl Marx dalam Das Kapital serta banyak pula tokoh Revolusioner menjelaskan posisi Negara sebagai alatnya Kapitalisme untuk penindas Rakyat, salah satunya adalah V.I Lenin.
Kepentingan yang mewakili pertarungan prinsipil kontradiksi antagonis berikutnya adalah ideologi sosialisme-komunisme, dimana komunisme yang dimaksud adalah secara substansial sebagai tahapan tertinggi dari perkembangan masyarakat yang setara, tanpa kelas, tanpa penindas dan yang tertindas, tidak ada penguasaan manusia atas manusia lainnya, tidak ada bangsa dan Negara yang menjadi sekat sosial dan saling membeda-bedakan dalam kepentingan tertentu, yang ada hanyalah kelompok masyarakat dunia yang saling memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini bagi sebagian orang yang belum memahami filsafat materialisme dialektika, maka hanya akan menjadi utopis atau angan-angan saja, mimpi indah bagi kaum yang merasa dirinya tertindas dan sengsara hidup di dunia ini. Namun materialisme dialektika mengajarkan kita menuju Sosialisme Ilmiah, dimana tatanan masyarakat setara tersebut dapat terwujud dengan jalan yang berdialektis, yaitu membangun kekuasaan kelas pekerja dalam bentuk Negara Dictator Proletariat, ini berfungsi untuk membunuh segala perangkat dan sifat borjuis-kapitalistik yang telah tertanam dalam diri masyarakat selama beratus-ratus tahun Kapitalisme berjaya dan memimpin sistem bermasyarakat dunia. maka dalam ideologi sosialisme-komunisme, setelah hancurnya Negara Kapitalisme, maka kelas pekerja yang memimpin masih membutuhkan Negara sebagai "alat" namun bukan untuk menindas dan melanjutkan sistem yang kapitalistik dengan watak exploitatif, akumulatif, dan ekspansifnya, tetapi Negara dibutuhkan sebagai alat yang digunakan oleh dictator proletariat untuk menghancurkan sisa-sisa Kapitalisme yang akan bangkit kembali melalui sifat borjuasi yang melekat pada diri masyarakat.
Ini menjadi pemahaman mendasar yang harus dipahami oleh kelas pekerja yang tersebar diseluruh dunia, untuk berhimpun dan bersatu menggalang kekuatan demi melaksanakan tugas historisnya, yaitu menumbangkan kapitalisme. menjadi tugas historis karena kelas pekerja di dunia ini lahir atas berlakunya sistem Kapitalisme di dunia, sehingga bisa dikatakan bahwa kelas pekerja adalah anak kandung dari sistem Kapital, dan secara historis hanya ia (kelas pekerja) lah yang mampu menumbangkan Kapitalisme, tidak yang lain!
artinya Kelas Pekerja harus mampu mandiri dan bangkit membangun alat politik ideologisnya sendiri, Partai Kelas Pekerja yang Revolusioner, karena dengan Partai Kelas Pekerja yang Revolusionerlah Dictator Proletariat mampu terlaksana dan memimpin Negara Sosialistik menuju Komunal modern, masyarakat kelompok tanpa kelas!
Tidak akan ada Sosialisme dalam perspektif Dictator Proletariat, saat Kelas Pekerja terbuai dan mempercayakan perjuangan ideologisnya kepada Partai Borjuis atau Kelas Borjuasi, apapun alasannya kelas Pekerja harus mempunyai alat perjuangan politiknya sendiri! bahkan jika harus memasuki arena perebutan kekuasaan di Parlementariat ala Negara Borjuis, maka Partai Kelas Pekerja yang Revolusioner ini harus mampu memenangkan suara massa rakyat dan "merevolusi" Negara Demokratis Borjuasi tersebut menjadi Negara Sosialistik Dictator Proletariat yang bergerak menuju sistem masyarakat tanpa kelas, Komunal modern! maka ingatlah bahwa Sosialisme-Komunisme itu Lentur dalam bergerak, namun teguh dalam prinsip berjuang di garis massa rakyat Pekerja yang Revolusioner, berkompromi dengan Borjuis adalah pengkhianatan ideologis, apapun alasannya! maka meskipun perjuangan Revolusioner kelas pekerja yang berdialektis ini harus memasuki arena borjuasi/ tidak ekstra parlementariat, maka ia (kelas pekerja) harus menggunakan alat politiknya sendiri, yaitu Partai Kelas Pekerja Revolusioner yang berjuang di garis massa rakyat pekerja, bukan di garis kompromis dengan borjuasi!
KAUM PEKERJA SEDUNIA BERSATULAH!

0 comments:
Post a Comment
what about U?