Percaturan politik nasional mulai
memanas pasca pemilu legislative 9 juli lalu. Bahkan manuver (3 partai besar
peserta pemilu 2014 : PDI P, GOLKAR, GERINDRA) partai politik pun kian mantap membentuk poros arah politik
nasional 5 tahun ke depan.Namun yang kemudian menurut saya harus di pahami
adalah : “apakah rivalitas kedua poros politik dari pasangan kandidat saat ini
merupakan representative dari kepentingan rakyat? Atau konstelasi politik saat
ini hanyalah salah satu varian bentuk dari kelanjutan dinasti penindas rakyat?”
Satu bulan ini, media massa kita
(dari cetak hingga elektronik) memiliki isu populer untuk dibahas, isu itu
adalah terkait poros politik yang terbentuk
oleh pasangan kandidat presiden 2014-2019, yang pertama poros dari pasangan
Jokowi-Jusuf kala yang di dukung oleh PDI P, NasDem, PKB, Hanura dan berikutnya
adalah pasangan Prabowo-Hatta yang di usung oleh Gerindra, PAN, PPP, Golkar,
PKS. Dan hal itu menjadi sesuatu yang “dibuat” sangat wah sehingga masyarakat
kita terserap untuk mengikuti isu populis yang bahkan belum menunjukan
kejelasan posisi politiknya 5 tahun mendatang. Mengapa saya berani mengatakan
bahwa kedua poros yang terbentuk itu belum menunjukan kejelasan posisi
politiknya, itu bisa kita lihat dari visi dan misi yang diusung kedua pasangan
kandidat tersebut.semua “kompak” dalam meminjam
semangat perjuangan soekarno membentuk Negara ini. Sederhananya kedua kandidat mengusung
program untuk mandiri di bidang ekonomi, berdaulat di bidang politk, dan
berkepribadian dalam hal kebudayaan. Hanya saja terdapat pengembangan di sana
dan sini seperti contoh prabowo yang
akan “membangunkan” macan asia sebagai semangat kepemimpinannya dalam
melaksanakan program program kemandirian ekonomi nasional, yang jika kita ingat
bahwa semboyan macan asia memang pernah mengaung di bumi Indonesia pada era
orde baru di bawah rezim militeristik Soeharto yang kala itu “sang macan asia”
(Indonesia) harus tumbang saat badai krisis moneter yang melanda meluluh
lantakkan perekonomian nasional yang memang tidak mempunyai pondasi yang kuat
dalam menyokong program pembangunanisme-nya. Lantas langkah apa yang akan
dilakukan Prabowo dalam evaluasi kegagalan membangunkan macan asia ala orde
baru? Kemudian jokowi yang telah
mengikrarkan perlunya di laskanakan revolusi mental bagi bangsa Indonesia untuk
memperbaiki “nasib” masyarakat Indonesia yang hidup miskin dan sengsara di
“tanah kaya SDA”.
Dalam perspektif perjuangan kelas
tertindas atau rakyat korban system yang tidak pro terhadap kepentingan dan
kebutuhan rakyat, maka kita temukan beberapa kejanggalan yang dapat kita
kritisi terkait visi dan misi para kandidat tersebut. Yang pertama soal
berdikari di bidang ekonomi ala kedua kandidat apakah berarti membangun
industrialisasi nasional? Jika iya, maka tahap pertama yang harus dilakukan
adalah menasionalisasikan asset SDA Indonesia dari tangan investor/korporasi
asing yang menguasai lebih dari 80% bahan baku strategis ekonomi international.
Membangun industrialisasi nasional sejatinya adalah membangun infrastruktur di
bawah kontrol rakyat, karena pada dasarnya industrialisasi nasional berarti
melaksanakan kegiatan ekonomi guna pemenuhan kebutuhan seluruh masyarakat yang kemudian rakyat memiliki
kewenangan penuh dalam mengelola SDA
alam tersebut. Inilah semangat dari, oleh dan untuk rakyat dalam aspek
perekonomian nasional, bukan membiarkan penguasaan modal oleh
investor/korporasi menggurita dan menghegemoni setiap keuntungan atas
eksploitasi nya terhadap SDA Indonesia serta
hanya memberikan wilayah kecil keterlibatan bangsa Indonesia dalam
“manajemen” dan kepemilikan atas SDA tersebut dan memberikan wilayah besar keterlibatan
bangsa Indonesia dalam posisi “budak modern” atau buruh tertindas dengan upah
kecil-jika dapat dianalogikan sebagai
upah yang hanya mampu memenuhi kebutuhan hidupnya satu hari itu saja, dan harus
menjadi budak modern lagi esok hari untuk memenuhi kebutuhan hidup esok hari
pula. Pertanyaannya kemudian adalah siapa pasangan kandidat yang mampu
melaksanakan semangat perjuangan rakyat Indonesia membangun industrinya sendiri
berdasarkan azas ekonomi dari, oleh dan untuk rakyat seperti yang tertulis
diatas? Prabowo jelas pernah mengatakan tidak akan melakukan nasionalisasi
asset dari penguasaan pemodal asing. Ini berarti bahwa strategi yang dilakukan
prabowo adalah upaya kompromis dengan kekuatan pemodal asing yang telah
merasakan “nikmatnya” SDA Indonesia. Secara psikologis kelas “pedagang international”
itu tak akan pernah bersedia mengurangi keuntungan yang dihasilkan baik dari
segi hasil produksi maupun dari segi pemberian hak normative buruhnya. Artinya
upaya kompromis yang dilakukan Prabowo hanya akan menghambat dan meredam
semangat pembangunan industry nasional dibawah kontrol rakyat. Lantas bagaimana
dengan pasangan Jokowi-Jusuf kalla? Harus diakui bahwa Jokowi mempunyai
pengalaman membangun usaha semasa di Solo dulu, dan Jusuf kalla adalah salah
satu master di ranah pengusaha nasional . namun yang kita bicarakan saat ini
adalah membangun industrialisasi nasional yang saat ini 80% SDA strategis
ekonomi telah dikuasai oleh pemodal
asing. Seberapa besar modal yang mereka punya untuk bersaing dan mengambil alih
penguasaan SDA dari tangan pemodal international itu? Bahkan jika ditambah
dengan “patungan modal” dari semua partai yang mendukungnya pun masih tidak
akan mampu “memerah putihkan” SDA Indonesia dari tangan pemodal international
tersebut, ditambah dengan konsesi yang harus dialami mereka atas serangkaian
perjanjian yang telah di buat pada era rezim sebelumnya. Melanggar perjanjian
perdagangan international itu berarti menantang Negara ekonomi kuat untuk
berperang dan mengancam keselamatan masyarakat Indonesia karena invasi militer
yang sering dilakukan guna menundukan perlawanan dari Negara berekonomi lemah
yang kaya SDA seperti Indonesia atas pembangkangannya terhadap perjanjian
perdagangan international yang sejatinya hanya menguntungkan pihak pemodal
international tersebut. Seperti yang dialami Venezuela era rezim hugo chaves
yang memimpin perlawanan rakyatnya lepas dari jeratan Neoliberalisasi. Muncul
pertanyaan kemudian adalah, beranikah pasangan kandidat ini (jokowi-jk) yang
nota bene berasal dari kelas borjuis menengah dan tidak mempunyai pengalaman
memimpin massa revolusioner dari kelas tertindas untuk melawan kungkungan
pemodal international ? beranikah pasangan kandidat ini mengorbankan kesempatan
“mensentosakan” hidupnya demi perjuangan kemerdekaan sepenuhnya rakyat Indonesia
dari jeratan pemodal international?
Kedua, terkait revolusi mental yang diikrarkan
jokowi, apakah sesuai dengan semangat perubahan (radikal) mental yang telah
dikaji dalam perspektif perjuangan kelas tertindas? Atau itu hanyalah
penggunaan bahasa sebagai ilusi bagi kaum oposisi system yang radikal? Sehingga
meminimalisir kontradiksi dan mendapatkan simpati yang luas bahkan dari kaum
oposisi haluan keras namun pragmatis. Jokowi menggambarkan revolusi mentalnya
adalah merubah mental “kuli” bangsa Indonesia menjadi mental “produktif”. Hal
ini dapat kita kaitkan dengan analisa yang pertama tadi, mental produktif yang
dibangun guna kepentingan siapa? Jika dimaksudkan bagi kepentingan rakyat maka
jokowi harus berani mengambil kepemimpinan massa untuk melawan segala jeratan
Neolib berupa perjanjian sebagai program dari globalisasi. Namun karena
perhitungan analisa kita mengkerucut pada posisi Jokowi-JK (wakil kelas
borjuis) tidak akan berani mengambil sikap melawan tersebut, maka kita sampai
di titik bahwa mental produktif yang dimaksudnya adalah meningkatkan daya kerja
dan skill bekerja masyarakat (buruh) Indonesia dalam melipat gandakan
keuntungan produksi pelaku ekonomi nasional yang mayoritasnya adalah pemodal
international sebagai penguasanya dan terus memperkuat undang-undang ketenaga
kerjaan yang pro pemodal, yaitu system kerja kontrak dan politik upah murah.
Untuk mencapai tujuan dari revolusi mental semu ala kelas borjuis itu, maka diperlukan
langkah awal yang sudah bertendensi kesana, yaitu melalui program pendidikan
yang kapitalistik atau sarat akan kepentingan modal
(komersialisasi-liberalisasi-privatisasi) dengan menciptakan silabus pendidikan
yang hanya mempersiapkan peserta pendidikan ke “persaingan” dunia kerja di
lapangan kerja yang sempit, sehingga mental peserta pendidikan bukan lagi soal
mengilmiahkan suatu ilmu guna menjawab kebutuhan sosial masyarakat dan alam,
namun bergeser ke arah memperdalam skill yang digunakan sebagai bidang posisi
permintaan perusahaan (yang masih dikuasai oleh asing). Artinya sebesar dan
sedalam apapun skill yang dipunyai bangsa Indonesia setelah mengenyam
pendidikan yang kapitalistik itu, tetap tidak akan mampu membangkitkan kekuatan
perekonomian dan kepribadian bangsa Indonesia, karena skill hebatnya dalam
bentuk produktifitas tinggi adalah untuk melipat gandakan keuntungan perusahaan
yang bukan milik rakyat Indonesia dan praktis sesungguhnya produk dari
pendidikan (yang kapitalistik) itu adalah seorang buruh yang berintelektual
namun karena system yang berlaku dia harus tunduk kepada kekuasaan modal (dan
pemodal), “tidak ada yang berubah dari
perubahan mental” ala kelas borjuis
ini (jokowi). Tetap kembali kepada mental kuli-buruh.
Segarang
apapun bahasa mereka ( pasangan kandidat presiden dan wapres 2014) dalam
persaingan mencari dukungan massa, sedetil apapun mereka menggunakan semboyan
semboyan soekarno, semua dari mereka bukanlah representative dari perjuangan
rakyat kelas tertindas yang hari ini di wakili mayoritasnya oleh kaum pekerja
(buruh, buruh tani, nelayan). Karena berdikari ekonomi, berdaulat politik, dan
berkepribadian secara budaya ala soekarno adalah sebuah turunan dari gagasan
membingungkan yang diciptakan soekarno melalui program revolusi dua tahap nya.
Dimana dia (soekarno) telah menunda semangat perjuangan kelas revolusioner
(buruh) yang memimpin revolusi dan membangun industrialisasi nasional menjadi
revolusi borjuis dan membangun kapitalisme dalam negeri yang dipimpin oleh
borjuis nasional (namun baru lahir) dan harus belajar dari borjuis
international dibawah otoritasnya. Ini membuktikan gagasan revolusi dua tahap
soekarno adalah salah satu tindakan pragmatis yang dilihat oleh kelas borjuasi
(soekarno itu sendiri).

0 comments:
Post a Comment
what about U?