Monday, December 2, 2013

turunkan tangan kananmu, angkatlah tangan kirimu (karya 2009) part 2


        IV.     MATTERIALISME dan IDEALISME
Aku rasa, selanjutnya aku perlu mengulas sedikit tentang pemahaman tentang cara pandang manusia terhadap kondisi dalam filsafat, karena aku tidak ingin penjelasan di atas menimbulkan ke salah pahaman, karena terkait juga dalam masalah kerohanian. Nah untuk memulai BAB ini, aku akan coba menjelaskan sedikit esensi dari cara pandang filsafat itu sendiri.

Filsafat adalah sebuah ilmu cara pandang seseorang terhadap segala sesuatu (kondisi) bahkan menjadi induk dari segala sumber ilmu yang sekarang tercerai berai, karena pada awalnya seseorang yang memandang bumi misalnya, maka ia pun akan memandang masyarakat, kehidupan masyarakat, dan gejala-gejala pergerakan bumi dan masyarakat, sekarang dari cara pandang seseorang terhadap sebuah (kondisi) bumi, itu telah tercerai berai, ilmu bumi bisa kita pelajari lebih khusus dengan ilmu geografinya, ilmu tentang kehidupan masyarakat bisa kita temukan dalam ilmu antropologi, sosiologi, dll, artinya adalah filsafat awalnya merupakan sebuah cara pandang manusia terhadap kondisi yang ada di sekitarnya.
Kubu filsafat terbagi menjadi dua sudut pandang, yang pertama adalah Idealisme, dan yang kedua adalah Matterialisme, Dalam memandang sebuah kondisi itu, seorang filsuf (sebutan untuk seseorang yang berfilsafat) itu menemukan dua metode pandang dan ini lah yang menjadi perdebatan selama beratus-ratus tahun lamanya, perdebatan itu adalah perdebatan ANTARA MANA YANG LEBIH DULU/PRIMER, IDE kah (IDEALISM) atau MATTER-kondisi (MATTERIALISM). Kedua cara pandang itu adalah BUKAN YANG MANA YANG BENAR, TAPI MANA YANG LEBIH DULU. Sehingga kita tidak bisa mengatakan salah satu diantara cara pandang itu salah dan salah satu itu lah yang benar, seorang IDEALIS mengatakan bahwa Ide-lah yang utama, dan dia akan berdiri di sebuah ide-nya itu, bahkan dia mengesampingkan sebuah kondisi (matter) realitas yang ada, menurutnya (idenya) sebuah kondisi itu akan berubah jika ia melakukan sebuah tindakan sesuai dengan idenya itu. Seperti contoh di penjelasan sebelumnya (tentang golongan kanan) . meskipun misalkan dalam pembangunan sebuah mall (pasar modern) ia juga memperhitungkan kondisi(matter) nya, namun yang pertama kali diutamakannya adalah sebuah ide yg dilihatnya untuk memodernisasikan sebuah tempat, meskipun secara kondisi (matter)  masyarakat setempat belum sanggup menerima/ bersaing dengan modernisasi itu, maka akan ia paksakan sesuai ide (yang menurutnya baik atau cemerlang itu). Perkara nanti misalkan banyak masyarakat yang tertindas, tersiksa dalam hidup miskin karena ide-nya itu, maka ia akan me-nina bobokan masyarakat dengan mengatakan “bahwa ini adalah kehendak TUHAN, segala rezeki sudah di atur TUHAN, jika miskin dan menderita di dunia, bersabarlah, di surga nanti akan di balas” seperti itu lah kaum idealis mengapa di katakan menjadi kaum penindas, karena janji surga yang dia lontarkan adalah demi menjaga kekuasaan dan ide-nya, padahal jika kita bersedia mendengarkan perintah TUHAN dalam sebuah alkitab, maka kita akan menemukan bahwa TUHAN TIDAK AKAN MERUBAH NASIB SESEORANG, JIKA BUKAN ORANG ITU SENDIRI YANG MERUBAH NASIBNYA, artinya sederhana,, TUHAN tidak pernah menganjurkan kepada kita untuk menyerah, namun harus terus berjuang…namun seorang IDEALIS dalam kesehariannya adalah seorang yang menggenggam teguh pendiriannya, karena ide yang menurutnya ideal itulah yang akan dilakukannya, sampai kita bisa mengatakan beberapa orang idealis adalah seorang keras kepala, itu karena menurutnya ide-nya itulah yang paling ideal untuk sebuah kondisi (berdiri di atas ide-nya sendiri) padahal realitasnya manusia hidup (yang normal dan berfikir) itu berdiri di atas sebuah benda (kaki-nya) bukan ide-nya (otaknya, karena otak lah yang mengeluarkan sebuah ide)  namun realitasnya kembali otak adalah sebuah benda, nyata, konkrit yang dapat di lihat, bukan sebuah ide dalam angan-angan belaka.

Idealisme adalah cara pandang yang memposisikan Ide lah yang utama/primer. Berasal dari kata “ided” atau “ideal” atau ide-pemikiran atau idaman, dan isme yang berarti paham atau mahzab, idealisme berarti memabayangkan sebuah pemikiran atau ide yang paling ideal dalam memahami dan membentuk gejala-gejala alam dan perkembangan masyarakat. Dalam hal ini yang pokok adalah ide, sedangkan matter(kondisi atau kenyataan) adalah hasil dari sebuah ide, jadi idelah yang pokok/primer/utama. Pemikiran Idealisme ini telah muncul pertama kali oleh undang-undangnya filsuf Plato pada masa yunani kuno, di sini Plato menyimpulkan bahwa alam semesta dengan segala isinya adalah produk/hasil dari ide yang berasal  dari luar ide manusia, ide yang tak mampu di jangkau oleh ide manusia, yang akhirnya membentuk kemasyarakatan yunani dalam mitologi/mitos-mitos tentang dewa-dewa, dimana dikatakan Plato bahwa dewa zeus lah sang pencetus ide kehidupan alam semesta dengan segala isinya, dan segala apapun yang dilakukan oleh manusia adalah produk ide diluar ide manusia tersebut, praktis disitu Plato mengatakan bahwa manusia hanyalah pelaku dari ide yang telah di hasilkan tersebut, sehingga apa yang telah di capai oleh manusia (ilmu pengetahuan, pemerintahan, dan segala perkembangannya) adalah hasil dari ide yang sudah ada, yaitu ide diluar ide manusia tersebut atau bisa kita sebut ide dewa/yang berkehendak. Manusia adalah perantara dari ide dewa/yang berkehendak tersebut dalam menghasilkan sebuah produk/barang/ilmu pengetahuan. Pandangan Idealisme ini adalah salah satu cabang Idealisme, yang disebut Idealisme Obyektif, yang berarti Ide diluar ide manusia itu adalah “obyek” karena manusia lah yang membayangkan adanya “obyek” tersebut atau manusialah yang sebenarnya ber ide bahwa ada “ide yang berkehendak/dewa”, sehingga posisi manusia adalah “subyek” yang melontarkan adanya “ide yang berkehendak(obyek)”. Dan pandangan Idealisme ini dipergunakan dalam system pemerintahan pada masa perbudakan hingga feodalisme abad kegelapan. Dimana rakyat ditenggelamkan dalam takhayul-takhayul yang di titahkan oleh penguasa pemerintahan pada masa itu, bahkan rakyat dipaksa mempercayai bahwa Raja(pada masa feodalisme) adalah titisan dewa, sehingga rakyat harus tunduk patuh terhadap semua ucapan sang raja, meskipun rakyat harus tersiksa dan sengsara dengan nafsu biadab sang raja, namun itulah alas an paling rasional mengapa raja sanggup bercokol kuat memerintah ribuan rakyat dengan sikapnya yang penuh arogansi tinggi serta keserakahan, karena rakyat telah tenggelam dalam dogma bahwa raja mereka adalah titisa dewa, sehingga rakyat tidak pernah berani berusaha tuk melawan titisan dewa yang telah memberi mereka makan, berkah, rejeki, dan kehidupan. Rakyat tak mau menerima amuk dari sang dewa dan tak mau menikmati kesengsaraan yang diberikan oleh raja dan aparatur pemerintahan yang lain, peristiwa yang telah di alami oleh Copernicus dan Galileo yang mengkumandangkan sebuah keberhasilan ilmu pengetahuan ilmiah memecahkan misteri alam yang saat itu bertentangan dengan kepercayaan yang di anut kerajaan dan gereja yang telah membentuk pola pikir masyarakatnya, sehingga teori ilmiahnya tentang alam dan perkembangan ilmu pengetahuan itu dianggap sebagai ajaran sesat oleh gereja dan bertentangan dengan kerajaan. Saat itu pemahaman masyarakat mempercayai kepada pandangan gereja dan kerajaan bahwa “Bumi adalah pusat tata surya” dan “bumi itu datar, sehingga jika kita berjalan jauh maka akan jatuh ke suatu tempat tanpa ruang dan dimensi”, dan pemahaman itu di bantah oleh Copernicus dan Galileo yang telah merumuskan ilmu pengetahuan ilmiah tentang “matahari adalah pusat tata surya dan bumi adalah planet-planet yang mengitari matahari” serta teori “ bahwa bumi itu bulat, dapat dibuktikan dengan melihat kapal yang datang dari kejauhan maka yang pertama kali nampak adalah ujung tiangnya, lalu kemudian kelihatanlah seluruh badan kapal”. Namun sebenarnya jika kita kaji lebih dalam dan mungkin masyarakat pada saat itu bersedia meluangkan waktu dan pikirannya untuk memahami teori yang dikemukakan oleh Copernicus dan Galileo, saya yakin sepenuhnya, maka kredibilitas gereja dan raja sebagai titisan dewa akan hancur runtuh di pukul oleh perkembangan ilmu pengetahuan. Dan itulah Idealisme yang menjadi senjata ampuh untuk menenggelamkan masyarakat dengan mitos-mitos dan menina bobokan kecerdasan social masyarakat dengan takhayul yang diciptakan oleh yang penguasa pemerintahan untuk memenuhi kepuasan dan kepentingannya semata, walau telah menyengsarakan rakyatnya yang berlimpah ruah. Idealisme tak mengijinkan apapun mengancam ide yang telah menguntungkannya tersebut. Rakyat dipertunjukkan dengan keganasan murka penguasa kerajaan dan gereja  yang terancam keuntungannya oleh pemahaman yang bertentangan dengannya, sehingga Copernicus dan Galileo menjadi tontonan sekaligus percontohan kepada seluruh masyarakat yang menentang pandangan raja dan gereja maka akan bernasib malang seperti Copernicus dan Galileo. Dan rakyat hanya meng-amini apa yang terjadi kepada Copernicus dan Galileo, serta tak mempunyai landasan berpikir yang kuat untuk membelanya, karena ternyata kita bisa melihat dari sisni bahwa Idealisme mampu membentuk masyarakat sesuai dengan Ide-nya atau Idealnya bagi si penguasa pemerintahan atau bagi si pemegang pandangan filsafat ini dengan mengatas namakan ide “obyektif” yang mengatur kehidupan manusia.
Dalam kasuistik yang lain pada masa kejayaan Feodalisme, Idealisme obyektif digunakan untuk menentukan hirarki dalam strata social masyarakat, karena dipercaya bahwa tatana dewa-dewapun memiliki hirarki tertentu, dimana zeuslah sebagai dewa tertinggi dan diikuti dewa-dewa lainnya sebagai pelengkap kerajaan langit. Seperti adanya dewa laut, dewa perang, dewa cinta, dewa kesejahteraan, dewa padi, dll. Maka implementasi Idealisme Obyektif ini adalah skolastisisme yang membentuk hirarki masyarakat feudal, dimana raja lah yang tertinggi, diikuti bangsawan dan ksatria, serta tuan-tuan tanah dan di bawahnya adalah petani-budak. Filosof skolastisisme adalah Thomas Aquinas. Dan penerapan Idealisme yang paling bobrok adalah penerapan kebijakan gereja katholik dalam hal penjualan “………(surat penebusan dosa)” yang mengatur tentang tata cara menghapus dosa yang telah dilakukan manusia dengan cara membeli surat penebusan dosa tersebut, dengan harga yang begitu mahal, dari sisni kita tetap bisa melihat penggunaan Idealisme untuk meraup keuntungan  dan kepentingan bahkan dari segi ekonomi. Yang pada klimaksnya nanti terjadi pemberontakan oleh kaum petani-budak karena tidak mampu membeli surat penebusan dosa tersebut karena harganya begitu mahal, sedangkan penghasilan petani-budak begitu kecil karena diperas oleh kaum bangsawan dan tuan tanah serta upeti untuk raja. Kaum yang memberontak dalam hal ini disebut “protestan-kristen Protestan”.
Seiring berjalannya waktu dan makin berkembangnya ilmu pengetahuan, maka manusia sudah memulai era baru dalam berpikir yang disebut era berpikir rasional, manusia rasional, yang dikemukakan oleh Descartes (1590-1650),Dalam pandangan yang paling terkenal adalah semboyannya “cogito ergo sum(saya berpikir, maka saya ada)”. Ini adalah cabang dari Idealisme yang lain, yaitu Idealisme subyektif, dimana menempatkan ide manusia adalah subyeknya, segala hal yang membentuk alam semesta dan segala isinya berikut perkembangannya adalah produk/hasil dari ide manusia. Karena memang yang bisa membantah ide yang diciptakan dari idealisme obyektif adalah hanya dengan pembuktian ilmu pengetahuan seperti (yang sebenarnya) yang telah dilakukan Copernicus dan Galileo. Maka di sini muncul mahzab eksistensialisme yang justru mendewakan manusia itu sendiri sebagai penghasil ide. Tokohnya adalah Nietzche dengan ungkapannya yang paling radikal “ Tuhan telah mati”.
Puncak dari Idealisme adalah hukum dialektika dari Hegel (1770-1831), yang terkenal dengan paham Idealisme Dialektika. Yang meyakini perubahan ide-ide yang membentuk kenyataan(alam semesta dan isinya). Hegel menjelaskan dialektika ide menurutnya dalam model/rumus thesis-antithesis-sinthesis , bahwa ide yang membentuk masyarakat(kenyataan) adalah sebuah thesis yang kelak akan di tentang oleh ide lain yang berkembang dalam masyarakat (antithesis) yang kemudian menghasilkan ide yang lebih tinggi(synthesis). Namun synthesis ini akan kembali ditentang dan seterusnya  menjadi synthesis baru. Dengan demikian, perjuangan manusia adalah pertentangan ide-ide yang membentuk kenyataan.

Matterialisme adalah kubu filsafat yang lain dan sekaligus menjadi lawan dari filsafat Idealisme. Matterialisme berasal dari kata “matter” atau “material” dan “isme” yang berarti benda-bahan-bahan atau sebuah keadaan-kondisi-kenyataan. Matterialisme adalah cara pandang filsafat yang meyakini bahwa “matter” lah yang utama-pokok-primer, matterialisme memandang ide/pikiran bersumber dari materi(benda). Karena pada kenyataannya ide adalah produk dari otak, dan otak adalah sebuah materi-benda konkrit. Sehingga matterialisme menempatkan materi yang pokok-utama-primer.
Matterialisme pertama muncul adalah pada masa sekitar 600 SM, yang bisa kita sebut matterialisme primitive. Sesuai dengan namanya, maka pandangan matterialisme ini masih sangat sederhana namun tetap memberikan sumbangsih yang besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan., yaitu Thales (640-546 SM) lah yang memulai nya dengan menyatakan bahwa segala sesuatu bersumber pada air. Alas an yang dikemukakannya adalah karena air merupakan sumber pokok kehidupan. Manusia hidup membutuhkan air (minum) unsur utama dunia (bumi) adalah air, alas an yang dikemukakan nya sangat rasional, karena air tidak hanya terlihat di laut atau sungai, namun terdapat di dalam tanah dan lapisan batuan. Ada pula Anaximenes (sekitar 500 SM) yang mengemukakan bahwa hakikat dunia adalah udara, dikarenakan seluruh makhluk hidup membutuhkan udara untuk bernafas. Bahkan Democritus (sekitar 500SM) berpendapat bahwa atom adalah unit-unit terkecil dari benda-benda. Dari segi jumlah dan susunan atomnya, setiap benda berlain-lainan. Democritus juga menegaskan hal penting yang disebut ruang. Ruang dianggapnya sebagai tempat bagi atom-atom bergerak, saling mendorong dan bertubrukan, sehingga menimbulkan berbagai gejala tentang gerak. Pemikiran Democritus ini dilanjutkan oleh Epicurus (341-270SM) yang menegaskan bahwa segala gejala pikiran dan perasaan manusia bersumber dari perwujudan gerak atom-atom. Dalam hal ini Epicurus menyebut atom-atom itu adalah material (materi-bahan-bahan-benda) dan menegaskan pandangannya bahwa materi lah yang membentuk  ide (pikiran) bahkan perasaan.
Matterialisme primitive dalam pandangannya masih sebatas melihat aspek fisik atau bendawi, artinya pendirian materialistisnya masih di dasarkan atas benda-benda seperti, air, udara dan atom. Namun penemuan yang terpenting adalah ruang. Pandangan tentang ruang inilah yang merupakan sebuah perluasan dari matterialisme dalam memandang dunia. Bahkan ruang yang di maksud berhubungan dengan atom-atom dan benda-benda yang bergerak.
Pandangan materialistik seperti ini sangat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengertahuan, karena mampu memecahkan berbagai misteri alam yang menaungi kehidupan manusia. Namun perkembangan ilmu pengetahuan yang didasarkan pada cara pandang materialistik ini tidak mampu bertahan lama, karena Idealisme telah menciptakan “zaman kegelapan”-jaman kebodohan yang diperuntukkan demi kepentingan dan keuntungan segolongan orang yang menduduki puncak pemerintahan dalam suatu system masyarakat. Seperti yang telah kita pelajari sebelumnya tentang penggunaan Idealisme untuk membentuk kondisi masyarakat. Kita bisa memulai dari percontohan pemerintahan Fir’aun yang menyebut dirinya adalah Tuhan, namun kenyataan yang dilihat oleh Musa A.S adalah bahwa fir’aun juga merupakan manusia biasa yang secara struktur tubuh dan kebutuhan untuk hidup(makan,minum,bernafas) sama dengan manusia pada umumnya. Disini kita bisa melihat cara pandang Musa yang secara materialistik (kebendaan-kenyataan) memberontak ide yang di bentuk Fir’aun untuk masyarakatnya. Kemudian kita bisa melompat ke jaman jahiliyyah pada masa Nabi Muhammad S.A.W, yang mengibarkan bendera perang untuk meruntuhkan kediktaktoran penguasa Mekah dan membebaskan budak-budak serta menghapuskan system perbudakan yang menyengsarakan masyarakat. Karena Nabi Muhammad berpandangan bahwa setiap manusia harunya mempunyai kedudukan dan keadilan yang sama satu sama lainnya, namun tidak begitu “kenyataannya” dalam masyarakat yang di bentuk oleh penguasa mekah. Pandangannya yang materialistik ini dengan melihat kenyataan-matter mendapat dukungan besar dari para pengikutnya dan perang-perang pembebasan pun dilakukannya selama bertahun-tahun. Kemenangan dari perlawanan ini membangkitkan perjuangan penting dalam sejarah dunia, karena setelah wafatnya Muhammad terjadi ekspansi besar-besaran dari kaum muslimin untuk menyebarkan ajaran Islam ke seluruh dunia dengan cara berdagang dan menguasai ekonomi-politik di seluruh dunia. Dan makin memantapkan pandangan matterialisme untuk laju perkembangan ilmu pengetahuan, karena semakin masiive nya para penyebar ajaran dan perdagangan (yang saat itu menggunakan perahu layar) maka sangat dibutuhkan pembekalan ilmu prkatis keilmiahan dari sudut pandang matterialisme seperti ilmu astronomi untuk mendapatkan gambaran tentang waktu, ilmu ukur untuk mengetahui berapa jauh jarak yang mereka tempuh, ilmu tentang arah mata angin, serta uang sebagai alat tukar barang dagangan mereka.
Namun matterialisme tidak selalu mendapatkan tempat yang belenggang leluasa penuh kejayaan di dalam masyarakatnya, karena pada suatu masa feodalisme berjaya di Eropa, pendidikan atau sekolah-sekolah yang menjadi tempat berbasiskan ilmu pengetahuan yang (sebenarnya) di dasarkan dari cara pandang matterialisme, tidak merata di rasakan seluruh masyarakatnya, karena untuk mendapatkan ilmu/pendidikan di sekolah-sekolah pada masa itu haruslah membayar mahal, dan sebagai petani-budak pada masa feudal tidak akan mampu mengenyam pendidikan yang mahal tersebut. Sehingga hanya golongan borjuis lah yang mampu menikmati pendidikan yang (sebenarnya) di dasarkan secara matterialistik. Padahal kita sudah memahami bahwa dalam tatanan masyarakat feudal, gologan borjuis selalu berada di atas petani-budak dan selalu berusaha mempertahankan keuntungan dan kepentingannya walaupun menindas dan menyengsarakan gholongan masyarakat bawah(petani-budak). Praktis pada masa kejayaan feodalisme Eropa, kembali matterialisme tenggelam dari kehidupan masyarakat yang telah terdoktrin dan terdogma oleh Idealisme penguasa-Borjuis.
Kemunculan kembali filsafat matterialisme ditunjukkan oleh kelahiran pemikiran filsuf perancis Paul d’ Holbach (1723-1789) yang melakukan pemberontakan pikiran mistik yang di hembuskan oleh nafas Idealisme. Ia beranggapan bahwa Idealisme menghanyutkan masyarakat kepada hal mistik dan takhayul, sehingga masyarakat terpaksa harus patuh dan tunduk kepada hal mistik dan takhayul yang di ciptakan oleh penguasa lalim, dan membuat masyarakat “menerima” kesengsaraan hidupnya adalah “kehendak” hal yang mistik tersebut dan tenggelam dalam kemistikannya hingga melupakan bahwa raja lalim berada di hadapannya-yang seharusnya bertanggung jawab atas kesengsaraannya, kesengsaraan masyarakat perancis demi meraup keuntungan ekonomi yang berlimpah ruah atas darah dan keringat masyarakat golongan bawah terutamanya.
Hal inilah yang kemudian menjadi pemicu terjadinya Revolusi Perancis yang dilakukan oleh petani-budak yang memberontak terhadap kerajaan otoriter perancis. Dan matterialisme kembali muncul dalam periode-periode tertentu perkembangan masyarakat serta mengawali lahirnya “Renaissance-zaman pencerahan-zaman berpikir kembali” yang kemudian berurutan munculnya Revolusi Industri di Inggris yang menjadi klimaks perkembangan ilmu pengetahuan pada masa itu dengan cara pandang matterialistiknya mampu merombak dengan singkat sturktur dan system masyarakat dalam kegiatan ekonomi yang bisa kita sebut system Kapitalisme.
Namun lahirnya Kapitalisme (bisa dipelajari dengan materi terkait) bukan berarti puncak kesejahteraan manusia dengan peradaban yang tinggi, karena dalam masyarakat Kapitalisme ternyata masih banyak golongan masyarakat yang tertindas. Dalam hal ini kita sebut kelas pekerja atau buruh. Hal ini dikarenakan masyarakat yang terdogma dengan Idealisme penguasa belum memahami betul bahwa ilmu pengetahuan yang berlandaskan cara pandang matterialisme lah yang berperan penuh dalam menentukan bentuk struktur dan system bermasyarakat. Namun lebih tepatnya masyarakat yang belum memahami ini dikarenakan tidak diberikannya kesempatan bagi masyarakat tersebut untuk belajar dan menggali kemampuan berpikirnya secara matterialisme-ilmiah-ilmu pengetahuan, karena masyarakat tersebut adalah budak pada masa perbudakan, petani-budak pada masa feodalisme, dan buruh pada masa kapitalisme. Yang mengandung arti bahwa golongan masyarakat tersebut adalah kelas pekerja, yang berubah-ubah bentuk sesuai dengan bassis matter hubungan produksinya. Petani-budak basis matter hubungan produksinya adalah pertanian/pengelolaan-berproduksi dengan tanah, sedang buruh adalah industrialisasi karena telah berkembangnya mesin-mesin produksi komoditi pasca Revolusi Industri. Namun yang harus di pahami adalah kelas pekerja tersebut dari masa ke masa adalah penggerak ekonomi sebuah system masyarakat yang dipegang oleh golongan penindas-penguasa pemerintahan. Yang kelak secara histories buruh/kelas pekerja mempunyai tugas historis untuk menumbangkan kapitalisme, seperti yang telah dipercontohkan oleh empiric pada masa revolusi perancis. Pemahaman inilah yang di cetuskan oleh Karl Marx, seorang filsuf yang mengibarkan bendera matterialisme-Dialectica. Di sini Marx melandaskan cara pandangnya melihat gejala alam dan masyarakat menggunakan matterialesme dan menggunakan hukum dialektika nya Hegel serta membuang cara pandang Idealisme nya Hegel. Marx menganggap bahwa semesta adalah hasil dari pergerakan benda-benda/materi-materi di dalam sebuah ruang, dan pergerakan itulah yang menentukan atau membentuk sebuah kondisi atau kenyataan. Hukum Dialektika Marx dalam matterialisme dialektikanya meliputi, ruang, waktu, kontradiksi, negasi, dan perubahan (kuantitas ke kualitas) dari benda-benda/materi-materi yang bergerak. Bahkan Marx secara Kritis melihat matter-kenyataan pada system kapitalisme tentang hubungan produksi antara tenaga produksi (SDM) dengan alat produksi (SDA dan perkakas) yang memunculkan sebuah “nilai lebih” yang dihasilkan dari proses produksi tersebut, dimana nilai lebih ini diuntungkan bagi pemodal-kapitalis dan merugikan pekerja-buruh. Gagasan tentang nilai lebih ini telah Marx sampaikan dalam bukunya “Das Capital” tentang teori nilai lebih. Hal inilah yang meneguhkan prinsip Marx tentang penindasan di masa Kapitalisme, dimana pekerja haruslah bekerja keras untuk mendapatkan gaji dan dibenamkan kecerdasan sosialnya tentang nilai lebih tersebut, ini tak lain adalah hasil dari Idealisme yang digunakan oleh borjuis-kapitalis untuk menina bobokan kesadaran sosialnya, bahkan menciptakan paradigma tentang konsumsi barang-barang yang sesungguhnya bukan prioritas yang dibutuhkan masyarakat, namun karena barang tersebut mampu menguntungkan kapitalis maka barang tersebut dijadikan alat untuk membentuk masyarakat yang konsumtif. Bahkan Kapitalis dengan Idealismenya mampu membentuk paradigma, semakin tinggi jenjang/tittle pendidikan masyarakat maka akan mendapatkan posisi yang tinggi pula dalam sebuah perusahaan, setelah paradigma itu tercipta, maka kapitalis akan memanfaatkan aspek yang lainnya yaitu menjadikan sekolah/instansi pendidikan menjadi dunia bisnis, dengan harga pendidikan yang harus dibayar mahal oleh peserta didiknya, karena manusia akan berlomba-lomba memasuki pendidikan yang tinggi walaupun dengan harga tinggi namun akan mendapatkan posisi pekerjaan yang tinggi pula nantinya. Namun tidak hanya selesai sampai di situ saja, kapitalisme ternyata lebih kejam dengan menciptakan pengangguran massal yang bertujuan mendapatkan tenaga kerja/buruh dengan upah yang rendah. Karena lapangan pekerjaan atau industri yang diciptakan oleh kapitalis terbatas jumlahnya dibandingkan dengan membludaknya pelajar/calon buruh segar, maka kapitalisme menciptakan system kerja kontrak, bagi pekerja yang telah habis masa kerjanya maka akan di PHK (pemutusan hubungan kerja) untuk digantikan posisinya dengan calon buruh segar/pelajar yang telah lulus masa pendidikannya. Sehingga sangat terancam bagi buruh untuk memberontak menuntut upah yang layak, karena kapanpun kapitalis bisa memecatnya dan menggantinya dengan buruh yang masih segar, sehingga wajar jika buruh hari ini harus rela menerima gaji kecil dari kapitalis walau buruh sudah bekerja keras tak kenal lelah, karena nasibnya saat ini masih bergantung di tangan kapitalis.
Atas dasar itulah Marx bermaksud menyadarkan kelas pekerja di seluruh penjuru dunia untuk memahami tentang siapa yang sebenarnya pemegang kunci berputarnya roda ekonomi? Atas dasar itulah Marx bermaksud membangkitkan kembali “roh” matterialisme memberontak melawan musuh abadinya-Idealisme. Atas dasar itulah Marx menulis secara sejarah bahwa kapitalisme akan tumbang oleh kelas pekerja nya-sama seperti feodalisme tumbang oleh kelas pekerjanya- dan setelah kapitalisme tumbang, maka akan lahir sebuah tatanan masyarakat Sosialisme. Dimana kelas pekerja akan menjadi pemimpin pemerintahan. Namun kembali tak semudah yang kita bayangkan, ternyata Idealisme tidak memberi kesempatan dan belajar dari pengalaman sebelumnya untuk meredam perlawanan kaum matterialisme, kali ini dengan cara membunuh karakter esensi dari matterialisme. Idealisme mencitrakan dirinya dengan baik, yaitu membentuk paradigma bahwa Idealisme adalah berpegang terhadap prinsip ide nya dan Idealnya, tanpa tersentuh atau tergoda dengan keadaan dan benda. Sedang matterialisme di citrakan sebagai paham kebendaan/materi (dalam hal ini di pandang sebagi harta-kekayaan) sehingga matterialisme menduduki posisi negative dalam pandangan masyarakat, bahwa pengikutnya adalah seorang yang mempersoalkan tentang benda-harta-kekayaan-materi-uang.
Jika merunut dari pemahaman demi pemahaman hingga saat ini kita masih bisa mengkorelasikan pengertian kiri dalam arti perlawanan, yaitu pandangan buruk yang di arahkan kepada matterialisme, adalah salah satu bentuk perlawanan dari kaum matterialisme terhadap Idealisme-karena pada kenyataannya matterialisme selalu memberontak dan melawan Idealisme, sejarah telah menjelaskan hal itu. Semoga sampai detik ini kita mampu memahami bahwa Idealisme adalah Filsafatnya kaum penindas yang menjadi senjata ampuh untuk meredam perlawanan kecerdasan sosial masyarakat dengan ide-ide yang bertaburan di alam imajinasi-ide-angan-angan, sedangkan Matterialisme adalah filsafatnya kaum tertindas untuk melawan pembodohan yang di hembuskan oleh Idealisme-Penindas atau secara singkat matterialisme adalah senjata kaum kiri untuk melawan tirani.

V. EPILOG
Saat ini saya hanya mencoba merefleksikan kembali pemahaman yang mungkin sudah sedemikian cara saya ungkapkan lewat kata per kata, kalimat per kalimat, dan beberapa analogi yang sekiranya bisa membuka ruang berpikir kita untuk mengenal, memahami, dan menentukan sikap diri atau posisi dalam arus kondisi pada hari ini. Mungkin beberapa pembaca langsung memberikan sebuah pandangan, bahwa saya (penulis) adalah seseorang dari golongan kiri. Sehingga memaparkan segala yang (mungkin) pembaca tangkap adalah propaganda positif tentang gerakan kiri. Jika benar muncul pernyataan seperti itu, secara tegas saya jawab IYA. Namun dengan catatan bahwa IYA setelah kita memahami arti kiri yang sesungguhnya. Kiri yang saya paparkan adalah sebuah empiric atau secara historical sebuah perjuangan dan perlawanan kelompok (kiri) terhadap segala bentuk penindasan. Karena berdasarkan pengertian kelompok (kiri) secara historis memang begitu adanya, begitu kenyataannya-realitasnya, bahwa manusia-manusia dalam kubu kiri adalah manusia-manusia yang melawan terhadap segala benuk penindasan. Kita bisa membaca kembali sejarah perjuangan kemerdekaan nasional, setiap “mereka” yang melawan adalah seorang yang di cap kiri oleh pemerintahan colonial, pahlawan yang telah berjasa mengusir penjajah dari tanah air kita adalah mereka yang mempunyai roh kiri-roh perlawanan terhadap tirani. Dan makna itulah yang sesungguhnya ingin saya angkat dari tulisan saya ini. Sebenarnya secara gamblang saya tidak pernah mempermasalahkan penamaan untuk manusia sadar yang hendak melawan terhadap penindasan. Yang terpenting adalah kita saat ini memiliki roh kiri-roh perlawanan, karena pada kenyataannya penindasan masih terjadi di negeri kita, bahkan dunia. Penindasan dengan tangan halus berkuku tajam, invisible hand tiran. Di Indonesia ada sebuah problematika yang begitu kabur, yaitu permasalahan tentang golongan kanan-dan kiri. Yang sesungguhnya manusia Indonesia masih banyak yang belum paham betul makna pembagian kelompok tersebut. Masih banyak dari sodara kita yang masih termakan dengan dogma kuno, yang mengatakan bahwa golongan kiri adalah binatang buas, kejam, tak bermoral, dan siap memangsa manusia……..KAWAN…!!!! Pemahaman seperti itu adalah black propaganda dari ilmu politik kuno———politik mengadu domba-pemecah belah perjuangan,,dan itu terbukti benar...saat ini kita sulit bersatu hanya karena kita mengangkat tangan yang berbeda dalam memperjuangkan kesejahteraan nasional...sedangkan isu yang kita usung sama-masalah yang kita usung sama, yaitu anti penindasan-anti kapitalisme-anti neo liberalism– menuntut kesejahteraan sosial, tapi hanya karena banyak yang termakan dogma kuno, maka kita saling menutup diri, saling menjaga diri, tercerai berai dalam “medan aksi massa”, yang angkat tangan kanan, berkumpul dengan yang sesama angkat tangan kanan, begitupun yang angkat tangan kiri. Yang seharusnya kita bersatu kanan dan kiri menjadi tinju besar untuk memukul tirani!... Tapi itu tidak kita lakukan, karena dogma kuno telah menjadi makanan kita sehari-hari, dogma kuno tersebut telah menjadi dinding penyekat di antara kita yang sedang berjuang. Kembali saya coba melihat dalam sebuah rezim ORBA yang gencar melakukan agitasi hitam terhadap golongan kiri, ORBA mengatakan bahwa golongan kiri adalah setan berwujud manusia yang terkejam, tak bermoral dan tidak menghargai norma-norma agama. Masyarakat rezim ORBA di bentuk menjadi takut dengan golongan kiri, ketakutan tersebut kemudian di jaga oleh penguasa rezim dan kondisi ini membuatnya berperan sebagai pahlawan, sebagai seorang yang mampu melindungi masyarakat dari kejamnya golongan kiri, masyarakat dibuatnya tunduk dan takluk kepadanya, memanfaatkan ketakutan masyarakat yang dibuat olehnya….POLITIK itu KEJAM bung..!!!. Namun inilah yang seharusnya menjadi bahan renungan kita, golongan yang sadar kemudian bergerak berontak terhadap rezim otoritarian tersebut, harus mempertaruhkan nyawa mereka, diculik-dibunuh-dibuang, hanya karena mereka (golongan yang melawan) memberikan kritik (dalam ruang demokrasi) terhadap kinerja pemerintahan yang bobrok dan korup! Namun golongan yang sadar akan penindasan ini kemudian hendak bergerak melawan, tetap berjuang dalam represifitas senapan yang setiap detik mampu memecahkan kepala mereka. Mereka tetap bekerja di bawah tanah secara rahasia menyusun kekuatan untuk menggempur kekuatan militerisme ORBA, meskipun nyawa adalah taruhannya. ITULAH KIRI..!!!! kelompok yang sadar akan penindasan dan bergerak MELAWAN penindasan tersebut. Kisah seperti itu bisa kembali kita lihat dalam masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, golongan-golongan yang sadar penjajahan merencanakan kemerdekaan Indonesia di bawah tanah-lolos dari intaian pemerintah colonial. Mereka adalah kiri yang tetap berjuang di medan area peperangan melawan tirani, yang terus dibayang-bayangi dogma kuno tentang mereka (kiri) yang membuat pejuang tersebut termarjinalkan dari bassis massa nya…ironis. Dan satu realita yang saya lihat hari ini adalah…….manusia sadar yang melawan penindasan namun dia mengangkat tangan kanan, selalu menutup diri dan menjauhi serta enggan berkawan (perjuangan) dengan manusia sadar dan melawan penindasan, namun ia mengangkat tangan kiri…..namun  mereka yang mengangkat tangan kiri secara sabar mendekati dan bersekawan dengan mereka yang mengangkat tangan kanan, dengan catatan garis perjuangannya sama, anti penindasan-anti kapitalisme. Karena yang kita butuhkan adalah persatuan roh perjuangan-roh kiri yang melawan, bukan tampilan fisik tangan apa yang kita angkat untuk melawan. Jika esensi sesungguhnya telah kita pahami betul, maka kita akan tahu bahwa golongan kanan (dalam makna yang sesungguhnya) tidak akan pernah bersatu dengan golongan kiri (dalam makna yang sesungguhnya). Karena garis perjuangannya bertolak belakang. Golongan kanan “diam ditempat” dan golongan kiri “melawan penindasan dan merubah kondisi menjadi lebih baik”.

7 comments:

Unknown said...

Hy..
W dh bca karya yg kalian buat, & kabetulan tau mksud & tjuan dri pnulisan buku ini. Ad be2rpa hal yg mau w komentarin sebagai pembaca yg jujur g tau bnyak tentang sejarah, politik, maupun seni perjuangan.

Pertma, dari ap yg w tangkep d judul "Turunkan tangan kananmu dan angkatlah tangan kirimu" adalah sebentuk ajakan, dengan suatu alasan yg blm d ketahui bnyak orang.
Tp dri isi buku yg klian buat sebagian besar hnya memuat informasi tntang golongan knan & kiri, sampai d akhirpun hnya berupa penjelasan2, tp gda satu bab yg sifat'n menghimbau & mengajak dengan jelas mengapa kita hrus mengangkat tngan kiri?
Cb buat artikel yg memuat tentang kondisi Indonesia saat ini & ap untung'n jika kita jd seorang yg lbih kritis demi mnuju revolisioner d bagian akhir buku. Lbih gamblang & to the point, supya orang bukn cm pham beda'n knan & kri, tp jg terpengaruh untuk mengangkat tngan kiri.

Unknown said...

Yg kedua pemaparan tentang idealis & materialis. Mungkin ini cm sudut pandang sya sebagai orang awam, ap yg d sebut idealis mnrut sya adalah memegang teguh suatu nilai yg d yakini, jd tdk seluruh idealis itu kejam & menjual mimpi2. Meski sya tdk menapik bhwa benar idealis trkdang membumbui keyakinan dngan mimpi2/hrpan yg tdk nyata. Nmun yg perlu d tnda kutip, yg slah bukanlah krakter dri idealisme, nmun keyakinan keliru yg perlu d perhatikn. Itu sebab'n kita hrus kritis & melihat secara nyata akan kebenaran dari suatu keyakinan.
Buknkah orang glongan kiri sngat konsisten dngan perjuangan'n? Mnrut sya itu jg bgian dri idealisme. Glongan kri yg ideal y sperti itu, revolusioner. Jd mnrut sya sesungguh'n antra ideal & material sesalu berdampingan.

Seandai'n bsa d jlaskn lbh dlm bhwa ad baik'n ideal sbagai karakter yg pnuh dngan ide/tjuan mnuju sesuatu dngan tekad baja krn sifat dri ideal akn trus mju apapun yg terjadi, d dampingi dngan material yg melihat segla sesuatu secra logis & nyata shingga dlm proses pencpaian suatu tjuan tdk mrugikan pihak lain.

Cb ad bab yg membahas tentang baik'n kerja sma idealis & materialis, jd tdk terkesan kalian sebagai glongan kiri menjatuhkan glongan knan dmi mengangkat nma glongan kiri.
Ad bgian dri artikel klian yg mnuliskn bhwa bgian knan pandai memberi janji mnis yg kmudian mempengaruhi masyarakat untk bersikap patuh & mngikuti aturan yg telah d ciptkn glongan idealis.
Knp glongan idealis mampu mempengaruhi, sdngkan materialis (glongan kiri) d anggap pemberontak?
Itu krn faktor 'cara'. Glongan kanan menggunakan cara menghimbau, membentuk keyakinan mlalui alam bwah sdar secra perlahan hingga akhir'n msyarakat percaya.
Ad baik'n kalian sbagai golongan kiri jika ingin mempengaruhi masyarakat menjadi lbh kritis menggunakan cra sperti glongan knan. Gunkan kta2 yg merayu, mengajak berfikir bersma dngan kta2 yg halus, menampilkan perbandingan yg tdk objektif (hnya mengunggulkan kiri), buat mreka pham bhwa kiri melengkapi knan.

Unknown said...

Jd inti dri kseluruhan komentar sya adlah:
Sya sebagai pembaca mrsa d paksa scra tdk langsung untuk membela kiri dan membenci knan. Sdngkan kesan memaksa itu kurang co2k untuk sebuah buku yg tujuan'n mnurut sya 'mengajak & menimbulkan kesadaran'. Buatlah sya mersa memilih antra knan & kiri dngan alasan yg lbh kuat, bukn semta2 krn perbndingan knan & kiri. Bukn semata2 krn d artikel ini kiri d cetitakan lbh 'hebat', lbh 'benar'. Beri sya alasan yg lbh dalam & lbih bernalar k pkiran sya ntuk menentukn plihan mnjdi kiri.
Mungkin kalian beryanya "alasan yg seperti ap? Yg membuat pembca akn mnjadi kiri?"
Ju2r sya jg blm tau jwban'n, itu PR kita bersama. Dan alasan untuk mnjdi kiri tdk sya temukan d karya tulisan klian.

Unknown said...

Sorry kl coment'n tdk berkenan buat klian

Unknown said...

Maaf komentar anda baru sempat saya balas.
Sebelumnya terima kasih karena telah meluangkan waktu untuk membaca ikhtiyar saya.
Baik yang pertama akan saya tanggapi adalah persoalan tulisan "angkatlah tangan kirimu dan turunkan tangan kananmu" bukanlah sebuah bahasa denotasi yang bersifat persuasif. Perlu di urai bahwa kalimat itu adalah sebuah bentuk propaganda, yang jika sedikit kita ulas sebagai landasan pemahaman, maka propaganda bersifat pasif dalam proses induksi/lebih sederhananya saya sebagai penulis berupaya memberikan induksi dari "idealisme" saya dalam media buku kecil tersebut, yang nantinya pembaca tidak dituntut untuk mutlak mengikiti ide/gagasan saya dalam bagan konsepsi tulisan tersebut. Namun pemahaman propaganda sebagai suatu alat perjuangan tdk hanya disitu saja pengertiannya, masih terlampau luas jika kita diskusikan disini(karena tdk efektif dalam penyampaian tanggapan saya dlm membalas komentar anda). Jika kita sudah sepakat soal tulisan itu adalah bentuk propaganda dari "idealisme" saya, maka bukanlah menjadi satu instruksi agar sekalian pembaca sesegera mungkin "melaksanakan" gagasan/ide tersebut secara mutlak. Sehingga dalam sistematika penulisan itu bnyak mengandung pengertian soal sejarah penamaan golongan/gerakan, baik kanan dan kiri, sehingga sifat edukatif bakal terwujud dalam bab-bab awal tulisan tersebut. Dan itu juga bukan termasuk "penjelasan mutlak" , pembaca sangat diperbolehkan mengilmiahkan bagan edukatif tersebut, dengan beberapa refferensi yg mungkin pembaca dapatkan dari sejarah gerakan international maupun national.

Unknown said...

Lantas perkara bagian filsafat, ini akan menjadi tugas kita semua buat membedahnya. Yang pertama harus saya (ulangi) sampaikan adalah, filsafat jika dikaji menurut terminologi maka kita akan terjebak pada bahasa filsafat sehari hari (hal ini sudah saya sampaikan di tulisan bab filsafat juga), seorang idealis adalah orang memegang prinsip dan lain sebagainya, sedangkan matterialis adalah seorang yang mementingkan kebendaan. Nah dalam berfilsafat kita juga harus mampu memahami "proses berpikir" terlebih dahulu, karena filsafat bukanlah perkara mana yang benar dan mana yang salah. Filsafat adalah sebuah tahap pertama proses berpikir seseorang dalam memandang gejala alam dan masyarakat, maka penyederhanaan arti ny menjadi, mana yg primer antara ide kah, atau benda kah/kondisi. Nah mengapa golongan kiri (matterialis) disebut sebagai pemeberontak? Dari pengertian diatas sudah mampu menggiring logika kita ke arah, seseorang yang mampu (primus) memandang kondisi/benda/realitas maka sejatinya saat itu juga dia sedang melawan kepentingan "ide" dari seorang yang menjadi penguasa saat itu, baik penguasa ekonomi-dan politik, karena kedua hal itu yang akan menentukan realitas/matter/kondisi sosial masyarakat, salah satu objek kaji dari filsafat. seorang idealis adalah seorang yang memegang teguh prinsip, betul jika kita menggunakan filsafat dengan pendekatan sehari hari, sebagai contoh kelompok punk di indonesia yang mempunyai idealisme anti media, mereka kurang memahami posisi filsafatnya, bahwa indonesia pun mengenal punk sebenarnya karena ada media yg menjadi jembatan antara U.K (kelahiran punk) hingga dikenal di indonesia. Dan jika kita pandang dari segi matterialisme, maka media itu adalah sebuah matter yang mempunyai peran dan fungsi sebagai jembatan ekspansi ideologi punk dari U.K hingga ke dunia termasuk indonesia.

Unknown said...

Jika penjelasan sederhana ini masih membingungkan, mungkin keterbatasan komunikasi tak langsung kita, maka solusinya adalah diskusi langsung.. hehee... yg jelas posisi filsafat matterialis dan idealis bukanlah persoalan mana yg benar dan mana yang salah, namun mana yang utama/dahulu/primus. Dan jika hari ini(matternya/kondisinya) kita bingung dengan filsafat dan kedua cabangnya tersebut, maka akan kita temui kesimpulan bahwa silabus pendidikan hari ini /matter adalah hasil/buah berpikir dari idealisme yang tidak akan memberikan pendidikan yang membebaskan seperti yg ditulis oleh paulo freire. Idealisme syp? Saat ini yg kita hadapi adalah idealisme nya kaum liberal borjuis atah yg biasa kita kenal dengan kapitalisme, idealisme mrekalah yg menciptakan susunan pendidikan modern hari ini, yang tanpa kita sadari telah membentuk kerangka berpikir kita seperti mereka(kesenangan,hura hura,uang berlimpah, dll). Namun tanpa kita mempunyai modal untuk bersaing dgn mreka, maka mreka menjerumuskan kita menjadi budaknya/buruh di mesin mesin industrinya, mengakumulasikan modalnya, dll... terlampau panjang jika saya urai disini.
Nah persoalan pembaca merasa dipaksa membenci kanan dan membela kiri, agaknya memang begitu adanya, karena sekali lagi tulisan tersebut adalah propaganda (dengan pengertian diatas) artinya jika memang pembaca memahami tulisan tersebut maka pembaca bisa membenci dalam berbagai hal, tidak harus dengan cara yang penulis paparkan (ingat pengertian propaganda diatas...bukanlah satu instruksi mutlak). Sehingga saya melengkapi kemungkinan atas respon pembaca seperti yang kawan siska paparkan ini dalam bab epilog, dimana saya sebagai penulis menegaskan bahwa persoalan menjadi kiri bukan lah dalam simbolisasi tangan apa yang kita angkat, namun pada persoalan kita memahami roh kiri (bahasa semiotik). Kita paham kiri secara sudut pandang filsafat perjuangan kelas (tertindas) . Kita paham kiri sesuai penamaan sejarah revolusi dunia, dan memahami kiri berdasarkan gagasan konseptual gerakan. Jika kita menggunakan pendekatan cara berpikir dialektika, maka akan kita simpulkan bahwa kiri dan kanan dalam konteks "gerakan" adalah sebuah "materi"/ matter yang saling berkontradiksi. Itu mungkin yg dimaksud "kerja sama" idealis dan matterialis menurut pembaca. Namun sayangny meskipun bahasanya mirip, ternyata kedua hal itu mempunyai landasan prinsip yang sangat jauh berbeda esensinya.
Mungkin jika pembaca belum memahami tanggapan saya, maka komunikasi tak langsung ini menjadi "masalah"/kondisi/matter sehingga kita bisa menyambungkannya dalam ruang/matter komunikasi langsung 2 arah. Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih kepada kawan siska. :)

Post a Comment

what about U?

 

Left and Revolution © 2008. Design By: SkinCorner